Tadi ketika saya sedang makan buah saya bercerita ke Ibu tentang sekolah Musik itu. Saya bilang ke ibu saya ingin sekali masuk ke Sekolah itu. Ibu bilang "Amien, Iya insyaAllah ya kalo IP-nya bagus". Ya tentu kalau saya mau mengambil Sekolah musik disitu mau tidak mau saya harus kuliah di 2 tempat. Sudah siap? belom. Tapi tekad bulat ini berkata Siap.
Saya bilang ke Ibu bahwa saya ingin bekerja di Swasta dan Menjadi guru musik juga. Tapi ibu bilang saya menjadi seorang PNS saja. Wah saya tidak mau, Saya bilang ke Ibu alasan saya tidak mau menjadi PNS. Ibu tertawa, Ibu bilang kalau wanita itu enaknya kerja menjadi PNS. Tapi tetap saya tidak mau. Kemudia ibu bilang lagi "Yaudah ikutin jalan kamu aja". Ibu saya bukan seorang PNS. Ayah saya juga bukan. Keluarga saya tidak ada yang menjadi PNS alhamdulillah. Kita semua tahu betapa enaknya menjadi PNS. Tapi saya tidak mau. Mungkin saya termasuk sebagian kecil orang yang tidak mau menjadi PNS dari ribuan bahkan jutaan orang yang ingin menjadi PNS. Saya tidak akan menjelaskan disini mengapa saya tidak ingin menjadi seorang PNS.
Sejak saya kecil, Ibu berenti bekerja untuk menemani saya. Ya ibu saya dulu bekerja di salah satu rumah sakit besar di Daerah Pluit Jakarta Utara. Ibu saya menjadi kepala supervisor, Ya Ibu keluar kerja untuk menemani saya. Mengantarkan saya sekolah & les-les. Dulu ketika saya SD sehabis pulang sekolah saya pasti langsung les dan di jemput ibu. Sampai saya SMP ibu saya masih sering mengantar dan menjemput saya. Sungguh besar pengorbanan ibu saya. Dia rela meninggalkan pekerjaannya demi saya. Padahal kata ibu sekolah Bidan itu agak sulit. Bahkan waktu hamil saya pun ibu sekolah Public Relations lagi. tapi ibu meninggalkan pekerjaannya demi menemani saya. Membimbing saya. Dan menjagai saya.
Saya jadi ingat waktu saya menang lomba Puisi beberapa tahun yang lalu di TMII. Waktu nama saya di panggil saya maju kedepan, saya melihat wajah ibu saya. Terlihat senyum yang bahagia di sana. Waktu saya kembali ke kursi dan membawa piala ibu langsung mencium saya. Dan ketika mau pulang ada bapak-bapak dari dinas menghampiri saya dan ibu saya. Dia bilang "Bu ini anaknya bagus sekali bacanya. Saya dari kemarin ngeliat. Saya yakin pasti dia menang. Selamat ya bu". Ibu saya tersenyum. Ya ibu bilang "Mama seneng banget kamu menang" dalam hati saya ingin menangis detik itu juga.
Saya tau saya tidak bisa membalas semua kebaikan ibu saya. Maka dari itu saya ingin sekali membuat Ibu saya bangga, Tentu Ayah juga. Mungkin hanya dengan itu kebaikan Ibu yang selama ini kepada saya dapat saya balas.
"Ibu saya akan membuat ibu bangga, Ayah juga"